Browse By

Urgensi & Strategi Pemanfaatan Teknologi Informasi Di Perpsustakaan Sekolah

Share Button

clouadArtikel ini membahas tentang urgensi dan strategi penerapan Teknologi Informasi (TI) di perpustakaan sekolah. Pemahaman tentang penting (urgent) dan bagaimana strategi penerapan IT di perpustakaan sekolah ini merupakan dua aspek penting terutama dalam konteks perpustakaan Indonesia,khusunya lagi di perpustakaan sekolah. Hal ini karena, meskipun pada tataran legalitas dalam bentuk Undang-Undang,peraturan dan Standar Nasional Perpustakaan (SNP) sudah disiapkan secara formal, namun pada tataran operasional pengembangan perpustakaan sekolah masih mengalami banyak kendala. Lebih lagi jika dikaitkan dengan pengembanagn perpustakaan sekolah berbasis Teknologi Informasi.Kendala-kendala klasik, seperti masalah keterbatasan sumber dana,sumber daya dan keterbatasan waktu layanan perpustakaan sekolah masih sangat dominan ditemukan dalam  penelitian-penelitian kepustakawanan.

Sehubungan dengan fenomena tersebut di atas, tulisan ini mencoba mendiskusikan strategi penerapan IT dalam rangka pemberdayaan perpustakaan sekolah di Aceh pada khusunya dan Indonesia pada umumya. Satu prinsip utama yang ingin ditegaskan dalam tulisan ini adalah tingginya motivasi penerapan IT di perpustakaan dewasa ini harus dijadikan memontum pemberdayaan perpustakaan, terutama perpustakaan sekolah pada berbagai tingkatan. Keterjangkauan harga produk IT, ketersediaan aplikasi-aplikasi gratis (open source) khusus  bidang perpustakaan, seperti SLIMS (Senayan Library Management System),openbliblio dan lain-lain diharapkan dapat memberi solusi terhadap kendala pendanaan. Begitu juga, kemudahan penggunaan (usability) dan keberagaman media IT saat ini juga diharapakan bisa mengurangi IT phobia pengelola perpustakaan dan pengelola sekolah, sehingga tidak menimbulkan  resistensi berlebihan terhadap ide penerapan IT di perpustakaan sekolah.

Semua peluang tersebut harus dijadikan sebagai faktor penggerak (Generating factor) pemberdayaan perpustakaan. Pemanfaatan TI di perpustakaan harus dimanfaatkan secara maksimal, dan tidak harus mahal. Paradigma perpustakaan sekolah dewasa ini harus dirubah , tidak hanya sebatas sarana membaca siswa ketika guru berhalangan mengajar, tetapi juga harus dijadikan sebagai media pelatihan penguasaan Literasi Informasi (LI) dan Literasi Teknologi (LT), baik siswa,guru dan staf administrative sekolah lainnya. Kehadiran IT telah memungkinkan perpustakaan mengembangkan layanannya dengan mudah,murah, namun tetap bekualitas. Karena kedua kompetensi ini menjadi modal penting dewasa ini, baik dalam bidang pendidikan maupun sosial kemasyarakatan lainnya.

Jika masalah klasik tersebut di atas bisa teratasi, maka langkah penting berikutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana strategi penerapan.TI di perpustakaan sekolah? Apa signifikansi bahwa penerapan TI dalam konteks Aceh menjadi sangat penting (urgent?). Inilah dua hal utama yang akan dibahas dalam lanjutan tulisan ini. Namun demikian, pada bagian awal akan dibahas sekilas fenomena umum pengembangan perpustakaan sekolah di Indonesia pada umunya, dan Aceh pada khususnya. Disamping itu juga akan meberikan gambaran umum tentang strategi penerapan TI di perpustakaan sekolah luar negeri. Perbandingan ini penting agar memudahkan dalam memahami subtansi penerapan IT di perpustakaan Sekolah, serta kompetensi apa saja yang diharapkan dimiliki siswa sebagai outcomes dari layanan “Perpustkaan Sekolah berbasis TI”.

II.  Apa Landasan Hukum Perpustakaan Sekolah?

Landasan hukum perpustakaan sekolah adalah  Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, pasal 23 Ayat 1-6, Diantara catatan penting dari peraturan tersebut disebutkan bahwa setiap sekolah/Mandarasah perlu menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi Standar Perpustakaan Nasional (SPN) dengan memperhatikan standar nasional pendidikan, mengembangkan koleksi yang sesuia dengan kurikualum pendidikan, dan sekolah mengalokasikan 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah. Untuk menjamin sanksi administrative yang akan dikenakan kepada lembaga penyelenggara perpustakaan (sekolah/madrasah) yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 23.Sedangkan untuk tenag perpustakaan atau pustakwan sekolah/mdrasah sudah ada landasan hukumnya yang diatur melaui Kemndiknas RI Nomor 25 Tahun 2008 tentang standar tenaga perpustakaan sekolah/madrasah. Landasan hokum ini tentu sangat penting agar ke depan perpustakaan benar-benar menjadi elemen penting yang diperhatikan pengelola pendidikan dasar dan menengah dalam menjalankan fungsinya terkait pendidikan dan pembelajaran.

Disini jelas terlihat bahwa Indonesia pada prinsipnya sudah cukup lengkap secara hukum dan konseptual, namun sayangnya sebahagian besar  produk hukum  tersebut masih bersifat seremonial belaka. Padahal fakta-fakta aktual telah membuktikan bahwa mutu lulusan pendidikan di Aceh masih bermasalah. Dua Fakta terbaru misalnya menunjukkan bahwa mutu guru di Aceh yang masih rendah, sebagaimana diungkapkan Kadis Pendidikan Aceh, Anas M Adam di Harian Serambi Indonesia edisi Sabtu, 4 Mei 2013, bahwa hasil uji kompetensi guru (UKG) yang dilaksanakan Kemendikbud  masih rendah. Mutu guru ini tentu berdampak cukup signifikan terhadap mutu lulusan. Masih terkait dengan itu Sekda Aceh, T.Setia Budi di Harian Serambi Indonesia, edis Kamis 10 Mei 2013) juga mengungkapkan bahwa “Jumlah dana yang begitu besar dikucurkan Pemerintah Aceh ternyata belum mampu meningkatkan mutu pendidikan dan lulusan sekolah dasar hingga sekolah menengah di Aceh”. Meskipun fakta di atas ada benarnya, tetapi sangat diasayangkan jika hanya menganggap guru saja sebagai “kambing hitam” permasalahan mutu pendidikan di Aceh.

Padahal umunya tahu bahwa elevator penggerak mutu pendidikan tidak hanya bertumpu pada guru saja. Bahkan, guru dalam hal ini merupkan objek pelaksana dari kebijakan pendidikan. Merekalah yang seharusnya menyadari atas kemungkinan kekeliruan terhadap kebijakan yang telah dibuat. Sudah standarkah fasilitas-fasilitas pendukung pendidikan, seperti perpustakaan dan laboratorium? Sudah tepatkan model-model pelatihan yang diberikan kepada guru?.Jika tidak maka “pengkambinghitaman guru” itulah yang merupakan akar masalah. Seharusnya guru sebagai pejuang yang berada di barisan terdepan perlu dievaluasi, disemangati, dimotivasi, dan diapresisiasi oleh pemerintah agar mereka tatap semangat, karena semangat itu merupakan “roh” ketekunan dan keseriusan untuk mencapai kesuksesan dalam berbagai bidang.

III.   Apa itu Aplikasi TI Di Perpustakaan Sekolah?

Pada prinsipnya tujuan dasar penciptaan teknologi adalah untuk memudahkan manusia melakukan berbagai aktifitas (positif). Bhasan berikut akan membahas pentingnya penerpan IT di perpustakaan sekolah dengan tujuan agar TI dapat dijadikan salah satu solusi terhdap permasalahan pendidikan di Aceh pada khusunya, dan Indonesia pada umunya. Sebelum membahas lebih lanjut, perlu dipahami terlebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi (TIK).

Pengertian umum Teknologi Informasi menurut Chauhan (2004) sebagaimana dikutip oleh (Nazaruddin, 2012), adalah sebagai berikut “ ICTs is a generic term referring to technologies that are used for collecting, storing, editing and passing on (communicating) information in various forms ’, ( ICT merupakan istilah umum yang merujuk kepada perangkat teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengedit, dan menyebarkan Informasi dalam berbagai bentuk (format). Adapun  perangkat-perangkat teknologi yang dimaksud adalah

1)    Computer             3)    Digital camera               4)    Webcam

5)    Smart Card           6)    Internet                           7)    Scanner

8)    E-Book                   9)    Printer                            10)    Electronic Journals

11)  WEB-OPAC          12)  Animation                      13)  E-Mail

14)  CDROM.                15)  DVD                                     16)  RFID Technologies

Dari pengertian umum di atas, maka  jika dikhususkan dalam kontek perpustakaan, maka pengertian aplikasi (penerapan) adalah penggunaan perangkat teknologi dalam berbagai bidang pekerjaan rutinitas perpustakaan; yaitu; Administrasi (surat menyurat), aquisisi (pengadaan koleksi),organisasi koleksi (Klsifikasi dan katalogisasi), Sirkulasi (peminjaman dan pengembalian),Referensi (Layanan rujukan),Edukasi (pendidikan pemakai),Asosiasi (kerjasama) dan Promosi

IV.  Mengapa TI Di Perpustakaan Sekolah Itu Penting?

Ada beberpa alasan mengapa penerapan TI di perpustakaan sekolah, khususnya di Aceh menjadi sangat penting (urgent)?Alasan pertama adalah keadaan perpustakaan sekolah masih memiliki banyak permasalahan, baik di tataran kebijakan maupun operasional, yang mencakup sumber daya dan sumber dana sebgaimana disebutkan diatas. Ketersediaan produk TI dengan kehandalan yang dimiliki serta keterjankauan harga produk TI saat ini diharapkan bisa mengatasi masalah tersebut. Pkerjaan rutinitas perpustakaan yang membutuhkan sumber daya yang banyak akan dapat diminimalisir dengan pemanfaatan TI. Hal itu tentu akan juga dapat mengatasi permasalahan biaya. Alasan kedua adalah tuntutan mutu pendidikan, khususnya di Aceh. Penerapan TI diperpustakaan sekolah diharapkan bisa menjadi solusi untuk menjembatani gab informasi pendidikan antara pusat dan daerah sehingga UN mungkin tidak terlalu menjadi momok menakutkan bagi sekolah-sekolah di daerah. Deangan kata lain andai saja disetiap sekolah memiliki jaringan Internet, maka guru maupun murid dapat mengakses informasi- dan bahan pembelajaran sehingga ada sedikit kesetaraan antara pusat dan daerah. Alasan Ketiga adalah tuntutan generasi. Artinya, ada perubahan signifikan perilaku pencari informasi dewasa ii. Generasi yang sering disebut dengan generasi millenials, netizen, ataupun generasi Internet.

Sebagaimana dikemukakan Nazaruddin (2012) bahwa dalam banyak riset yang menginvestigasi tentang perubahan perilaku informasi pencari (information searching behavior) ditemukan bahwa, perkembangan teknologi yang pesat beberapa dekade belakagan telah terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam perilaku penelusuran informasi, terutama generasi millennial, yaitu sebutan lain dari generasi Y, dan tentu juga generasi Z. Apa itu generasi millenial? Apa saja karakteristik generasi millennial ini?, dan kenapa perpustakaan harus merespon terhadap generasi ini?

Untuk lebih jelasnya berikut dipaparkan temuan dua peneliti terkenal dalam bidang ini, sebagaimana di kutip oleh Dyah Safitri (2010), dalam karyanya “Perpustakaan Perguran Tinggi: Menyambut Asa Generasi Millenial”. Kedua tokoh tersebut adalah William Straus dan Neil dalam bukunya Millenials Rising : The Next Great Generation (2000), dan  Don Tapscott dengan bukunya Grown Up Digital (2009). William Straus dan Neil membatasi generasi millennial adalah orang yang lahir pada tahun 1983 hingga akhir 2001 di Amerika Serikat. Dia menyebutkan ada tujuh sikap yang merefleksikan generasi millenial yakni istimewa (special) ternaungi (sheltered), percaya diri (confident), berorientasi ke kelompok (team-oriented), pencapaian (achieving), dalam tekanan (pressured), konvensional (conventional).

Lebih lanjut, Don Tapscott pengarang buku Grown Up Digital (2009), menyebutkan bahwa  generasi millenial  adalah generasi Internet (net generation) yang memiliki karakteristk sebgai berikut : kebebasan (freedom), kustomisasi (customization), peneliti yang cermat (scrunity), integritas (integrity), kolaborasi (collaboration), hiburan (entertainment), kecepatan (speed), dan inovasi (innovation). Generasi millennial ini dicirikan sebagai masyarakat pembelajar yang selalu berinteraksi dengan internet dimanapun dan kapanpun membutuhkan informasi. Oleh karena itu, generasi millennial itu bisa ditandai dengan meningkatnya penggunaan alat komunikasi, media dan teknologi informasi. Misalnya: internet, email, SMS, IM, MP3 Player, HP, Youtube, dan lain sebagainya . Pengklasifikasian secara lebih detil dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 

Generasi Usia Tahun Lahir
Pre Baby Boom 67 > < – 1945
The Baby Boom 49 – 66 1946 – 1964
The Baby Bust/ Generasi X 36 – 48 1965 – 1976
The Echo of the Baby Boom/ Generasi Y 15 – 35 1977 – 1997
Generation Net/ Generasi Z < 14 1998 – kini

Sumber:  Slide Saifuddin Rasyid

Berdasarkan paparan diatas, terlihat jelas bahwa alasan utama penerapan TI di perpustakaan sekolah bukanlah sebuah trend kemajuan, tetapi lebih kepada tuntutan pengguna, khususnya generasi millenial yang sudah terbiasa menggunakan informasi di ujung jari atau serba clik (clicable). Fenomena perubahan perilaku pencari informasi (information seekers changed behaviour) sangat penting direspon oleh setiap institusi, kususnya bagaian sekolah sebagai front gate generasi muda.Jika kebutuhan ini tidak direspon dengan baik, maka kekecewaan dan komplain dari pengguna jasa layanan perpustakaan sulit dihindari. Fenomena ini dapat dimaklumi karena mereka telah ”dimanjakan” dengan layanan internet on line yang memberikan berbagai kemudahan dengan sekali “klik”.

Mungkinkah TI Di Perpustakaan Sekolah Di Aceh Dilakukan?

Melihat perkembangan komunitas perpustakaan seperti “Komutitas Bedah Perpustakaan (K-

be-pe) dan juga Komunitas Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT) di Aceh saat ini, penulis sangat optimis penerapan TI dipersustakaan sekolah dapat dilaksanakan dengan mudah .Keterpaduan kedua komunitas ini akan dapat membantu mengatasi kedua permasalahan, baik yang bersifat teknis kepustakawan maupun teknis ke IT-an.Namun yang sangat perlu dilakukan sebgai langkah awal adalah membengun komunikasi dan koordinasi yang interns antara manajemen sekolah (Kepala Sekolah, guru peustakawan) dan kedua komuntas sukarelawan ini. Sebag

VI.  PenerapanTI di Perpustakaan Sekolah Luar Negeri?

Penerapan Teknologi Informasi (TI) yang begitu pesat di perpustakaan negara-negara maju itu, telah mampu meningkatkan tidak hanya performa (penampilan) perpustakaan, tetapi juga citra profesi pustakawan. Perpustakaan sudah dikategorikan sebagai salah satu “social software, yang mampu menghubungkan masyarakat dan sumber informasi secara online dan simultan. Kreatifitas pustakawan telah dapat menciptakan layanan dan model penelusuran yang setara dengan mesin-mesin pencari (search engines) andalan dunia saat ini, seperti Google,Yahoo, MSN, IBM, Amazon

Lebih jauh, sebagaimana dilaporkan Gail Formanac & Laura (2011) bahwa di luar negeri peran pustakawan sekolah saat ini semakin berfokus kepada penggunaan bahan-bahan digital. Pustakawan atau spesialis media di banyak sekolah bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan merekomendasikan bahan-bahan digital untuk guru. Untuk tujuan tersebut, persentase kegiatan pustakawan sekolah di luar negeri adalah sebagai berikut: 78 %  bertugas mengidentifikasi website untuk penggunaan di dalam kelas.56% menyediakan koleksi  untuk mendukung kurikulum, 47 % untuk menemukan sumber digital yang spesifik, seperti podcast dan video untuk mendukung pelajaran di kelas. Disamping itu Pustakawan juga memungkinkan untuk memberdayakan keterampilan guru dengan konten digital -. menjawab pertanyaan tentang alat teknologi (85 persen), berpartisipasi dengan guru dalam komunitas pembelajaran profesional (66 persen) dan pelatihan guru bagaimana untuk mencari dan mengevaluasi konten digital (33 persen) dengan meningkatkan variasi dan kedalaman sumber daya digital yang tersedia untuk penggunaan di dalam kelas, pustakawan yang muncul sebagai pemain penting dalam memungkinkan penggunaan alat ini di dalam kelas. Dapat disimpulakan tugas pustakwan sekolah di luar negeri adalah sebagai berikut:

  • memberikan siswa dengan belajar konteks, proses dan keterampilan serta kesempatan untuk membaca lebih luas, pertumbuhan pribadi
  • menyediakan guru dengan dukungan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan siswa melek informasi;
  • menyediakan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan kurikulum;
  • menyediakan layanan dan teknologi yang dibutuhkan untuk mendapatkan akses maksimum terhadap informasi;
  • menyediakan fasilitas fungsional dan lingkungan yang menyenangkan untuk mendukung sekolah berbagai kebutuhan informasi

 

VII.   Bagaimana Strategi PenerapanTI di Perpustakaan Sekolah di Aceh?

Ada beberapa stregi yang perlu dilakukan dalam pengembangan perpustakaan sekolah berbasis IT.

  1. Komuinkasi Internal

Membangun komunikasi internal dengan pihak sekolah adalah hal pertama yang sangat penting dilakukan agar semua pihak memahami visi pemanfaatan TI diperpustakaan sekolah.

2. Komunikasi dengan Pemerintah

Pendekatan formal dengan lembaga pemerintah yang berkopteten dalam bidang perpustakaan dan pendidikan seperti Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, Kementerian Pendidikan Aceh,Jurusan Ilmu perpustakaan , dan  pihak-pihak lain. dibangun. Ini penting dilakukan karena pada kenyataannya banyak lembaga yang terkadang lemah dalam pengajuan program sehingga banyak program yang salah sasaran yang akhirnya tidak bisa menyelesaikan akar permasalahan. Contohnya, pemerintah lebih memilih pengadaan laptop untuk guru ketimbang memberikan pelatihan IT terlebih dahulu agar laptop/media yang diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal.

3. Komunikasi Eksternal

Strategi penerapan IT di perpustakaan sekolah juga dapat dilakukan dengan melibatkan pihak swasta, seperti komunitas-komunitas masyrakat yang bergerak dalam bidang perpustakaan dan informasi, misalnya dengan Komunitas Bedah Perpustakaan (K-bepe), Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT), Komitas Bloger Aceh, dan lain-lain. Kelompok relawan ini pada prinsipnya adalah kelompok-kelompok masyarakat professional yang dengan sukarela ingin mengkontribusikan pengetahuan dan keahliannya untuk membangun masyarakat dalam berbagai bidang. K-bepe yang merupakan kumpulan orang-orang professional dalam bidang perpustakaan dapat membantu dalam hal teknis kepustakawanan dan juga yang berkaitan dengan IT perpustakaan. MIT, yang merupakan komuitas yang aktif mensosialisasikan teknologi informasi kepada masyrakat agar dapat  menggunakannya dengan positif dan produktif, juga dapat dilibatkan untuk membantu dalam hal teknis TI di perpustakaan sekolah.

1. Gunakakan Pendekatan Bintang (Star Approach)

Untuk melakukan  semua strategi di atas perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah pendekatan bintang (STAR Approach). Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menganalisa situasi (Situation). Ini penting karena setiap sekolah memiliki situasi yang berbeda, baik dalah hal sumber daya maupun sumber dana. Jika situasi sudah dianalisis dengan benar, maka langkah selanjutnya adalah menyusun target, yaitu perencanaan waktu pencapaian kegiatan. Target saja tentu mustahil dicapai jika tidak ada (Action). Aksi adalah kunci keberhasilan. Besar kecilnya aksi sangat menentukan target pencapaian keberhasilan (result).

2.  Evalusi Diri

Evaluasi diri merupakan kunci sukses, baik pribadi maupun institusi. Banyak program yang tidak berhasi atau bahkan tidak bisa dilakukan karena kurang evaluasi diri. Oleh karena itu agar penerapan TI diperustakaan sekolah 5 K berikut juga sangat penting dimiliki oleh setiap individu yang terlibat dalam program pengemnagan Perpustakaan Sekolah Berbasis IT ini, yaitu,  kesadaran, keterbukaan, kesediaan dan keseriusan.

 Penutup

Perkembangan Teknologi Informasi yang begitu pesat menuntut  para penyedia jasa informasi untuk berbenah diri, kreatif, proaktif dan professional dalam menciptakan dan memberikan layanan. Penguasaan Teknologi Informasi baik secara teoritis maupun praktis menjadi sangat penting bagi setiap pustakawan dan staf perpustakaan sekolah. Hal ini karena disamping  untuk menunjang tugas-tugas operasional kepustakawanan, juga untuk memenuhi kebutuhan informasi guru, dan murid yang umunya para ”netizen” yang cendrung mencari informasi serba click (Clickable).

Pemenuhan kebutuhan informasi secara cepat, akurat dengan cara-cara yang sesuai  kebutuhan murid menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan sekolah di era ICT ini. Oleh karena itu pustakawan sekolah harus selalu mengupdate pengetahuannya dalam bidang kepustakawanan dan yang berkaitana dengan aplikasi teknologi informasi di perpustakaan. Pustakawan sekolah dituntut untuk jeli melihat aplikasi-aplikasi berbasis internet yang cocok diterapkan di perpustakaan sekolah

Meskipun disadari bahwa tulisan ini masih belum secara tuntas secara membahas permasalahan perpustakaan sekolah, namun diharapkan tulisan ini dapat menginspirasi para kepala sekolah,guru dan teman pustakawan yang bertugas di perpustakaan sekolah. Disadari juga  tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan, maka kritik dan saran untuk kesempurnaan tulisan ini sangat diharapkan. Mari maksimalkan pemanfaatan TI di perpustakaan sekolah semoga menjadi solusi terhadap permaslahan mutu pendidikan di Aceh. Lebih jauh, penerapan IT di perpustakaan sekolah juga diharapkan dapat meningkatkan citra guru pustakawan agra terus termotivasi dalam melaksanakan tugas mulia sebagai pengelola pengetahuan, pemandu penelusuran untuk mencapai visi terwujudnya masyarakat  literasi informasi dan teknologi.AMIN

Daftar Bacaan

  1. OCLC (2004). The 2003 OCLC Environmental Scan: Pattern Recognition Report.
  1. Don Tapscott (2009).Grown Up Digital (2009). Diakses Tanggal 10 Mei 2013, dari http://dontapscott.com/books/growing-up-digital/
  2. Formanac G & Piestsch, L (2011). Fixed Schedules Can Support 21st-Century Skills. School Library Monthly,v 27 no.6, 2011.

Diakses tanggal 15 Mei 2013 dari www.oclc.org/membership/escan/summary/

  1. Nazaruddin (2012). Layanan referensi online berbasis website melalui “bookmarking” Diakses tanggal 15 Mei 2013 dari http://nazaruddin.com/PUBLIKASI/publikasi/artikel-pribadi/
  2. Nazaruddin (2012).Pengembangan Perpustakaan Berbasis TI:Prospek,Tantangan dan Solusi pengembangannya di Aceh. Makalah yang dipresentasikan pada acara workshop pengembangan perpustakaan, di Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh.
  1. Perpustakaan Nasional RI (2009) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007.

7. Saifuddin A. Rasyid (2012).TantanganPromosi PerpustakaanGenerasi  

             Millennial.

Leave a Reply

Login

Lost your password?