Jaringan Perpustakaan Digital di Indonesia: Hambatan dan Wacana Pengembangannya

Share Button

Oleh Dian Wulandari

A. PENDAHULUAN

Lancaster, seorang pustakawan dan pengajar di bidang ilmu perpustakaan di Amerika telah memprediksi akan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat yang akan mengubah kehidupan manusia, yang disebut dengan ”paperless society”. Prediksi tersebut disampaikan pada sebuah konferensi perpustakaan di Finlandia pada tahun 1980-an.  Beberapa tahun sebelum internet booming, pada tahun 1985, Lancaster juga memprediksi bahwa “ilmuwan akan menggunakan terminal untuk memaintain notebook elektronik, menulis laporan untuk publikasi elektronik berikutnya, mengakses sumber informasi dalam bentuk database, mengindeks dan menyimpan informasi, dan mengkomunikasikannya dengan menyebarkannya dalam sebuah jaringan. Laporan ilmiah akan ditampilkan di database dan komunikasi antar penulis, editor akan dilakukan menggunakan email” (Lancaster, 1985, p. 554). Lancaster (1985) juga menggarisbawahi bahwa biaya penyebaran informasi secara fisik, misalnya buku tercetak akan jauh lebih besar  dan akan lebih ekonomis jika penyebaran dilakukan secara elektronik, sehingga akses terhadap buku tercetak akan semakin berkurang.

Kehadiran komputer dengan jaringan komunikasi didalamnya memungkinkan perpustakaan untuk tidak hanya mengotomatisasi kegiatan dan menyimpan data-data internal, tetapi juga memungkinkan terjadinya akses ke informasi yang secara fisik tidak tersedia di perpustakaan.  Pernyataan kedua mengandung arti penting yang mengubah konsep kita tentang sebuah perpustakaan yang ada selama ini dan menggambarkan perpustakaan ke depan sebagai sebuah toko besar informasi yang berwujud elektronik/digital daripada sebuah perpustakaan dengan koleksi berwujud secara fisik (Lancaster, 1985).

Prediksi Lancaster saat ini telah terjadi, era digital membawa perubahan besar pada perpustakaan dan industri informasi, dan pendapat tersebut diperkuat oleh Yamazaki (2006, p. 2) yang menyatakan terjadinya perubahan besar dan serius pada perpustakaan dan lembaga informasi karena adanya perubahan sosial dan teknologi yang meliputi 4 (empat) aspek, yaitu:

1. Teknologi Informasi (TI) telah membuat kemajuan besar dengan kepopuleran akses Internet yang digunakan di seluruh dunia.

2. Volume dan jenis informasi yang diproduksi hari demi hari telah mencapai ke tingkat yang mengkhawatirkan terutama pada sistem Web.

3. Terjadinya perubahan yang sangat mencolok yang tak dapat dielakkan yang terjadi dalam penggunaan informasi dan sistem informasi, dimana salah satunya adalah fakta bahwa pengguna akhir informasi dimampukan untuk  mengumpulkan informasi yang diperlukan melalui internet tanpa harus mengunjungi perpustakaan atau tanpa melakukan konsultasi apapun dengan pustakawan.  Selain itu dalam mengakses informasi, pengguna akhir memakai pandangan dari orientasi disiplin ilmu ke orientasi problem (problem oriented).

4. Nilai dari informasi itu sendiri dapat ditingkatkan dalam skema bisnis maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Disamping beberapa faktor yang telah disinggung diatas, motif-motif yang mendasari dan mendukung pengembangan perpustakaan digital adalah (Purtini, n.d.):

1. Pada perpustakaan konvensional, akses terhadap dokumen terbatas pada kedekatan fisik. Pengguna harus datang untuk mendapat dokumen yang diinginkan, atau melalui jasa pos. Untuk mengatasi keterbatasan ini perpustakaan digital diharap mampu untuk menyediakan akses cepat terhadap katalog dan bibliografi serta isi buku, jurnal, dan koleksi perpustakan lainnya secara lengkap.

2. Melalui komponen manajemen database, penyimpanan teks, sistem telusur, dan tampilan dokumen elektronik, sistem perpustakaan digital diharap mampu mencari database koleksi yang mengandung karakter tertentu, baik sebagai kata maupun sebagai bagian kata. Di perpustakaan konvensional penelusuran seperti ini tidak mungkin dilakukan.

3. Untuk menyederhanakan perawatan dan kontrol harian atas koleksi perpustakaan.

4. Untuk mengurangi bahkan menghilangkan tugas-tugas staf tertentu, misalnya menaruh terbitan baru di rak, mengembalikan buku yang selesai dipinjam ke rak, dan lain-lain.

5. Untuk mengurangi penggunaan ruangan yang semakin terbatas dan mahal.

Perubahan tersebut harus disikapi oleh perpustakaan sebagai lembaga informasi dengan mengubah bentuk perpustakaan, menjalankan visi dan misi yang baru, serta mengubah peran pustakawan sejalan dengan perubahan tuntutan pengguna perpustakaan saat ini dengan berjejaring dalam perpustakaan digital.

DEFINISI PERPUSTAKAAN DIGITAL

Ada banyak definisi tentang perpustakaan digital. Salah satu definisi yang dengan jelas dapat menggambarkan sebuah perpustakaan digital adalah:

Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized  staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the  integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital woks so that  they are readily and economically available for use by a defined community or set of  communities (Digital Library Federation dalam Waters, July/ugust 1998). 

Artinya perpustakaan digital adalah organisasi-organisasi yang menyediakan sumber daya, termasuk staf dengan keahlian khusus, untuk menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberikan akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan, dan menjamin keberadaan koleksi karya-karya digital sepanjang waktu sehingga koleksi tersebut dapat digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu atau masyarakat terpilih, secara ekonomis dan mudah.

Berdasarkan International Conference of Digital Library 2004, konsep Perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) berkecepatan tinggi. Pustakawan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mendapat, menyimpan, memformat, menelusur atau mendapatkan kembali, dan mereproduksi informasi non teks. Sistem informasi modern kini dapat menyajikan informasi secara elektronik dan memanipulasi secara otomatis dalam kecepatan tinggi (dalam Purtini, n.d.).

The Digital Library Initiatives menggambarkan perpustakaan digital sebagai lingkungan yang bersama-sama memberi koleksi, pelayanan, dan manusia untuk menunjang kreasi, diseminasi, penggunaan, dan pelestarian data, informasi, dan pengetahuan.

Konsep Perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) dengan kecepatan tinggi.

JARINGAN PERPUSTAKAAN DIGITAL DI INDONESIA
Di Indonesia, perpustakaan digital telah banyak dikembangkan terutama oleh perpustakaan perguruan tinggi.  Bahkan telah terbentuk beberapa jaringan perpustakaan digital seperti Ganesha Digital Library, Indonesia Digital Library Network, Spektra Virtual Library, dan yang paling baru adalah Garuda (Garba Rujukan Digital).  Dari beberapa perpustakaan digital yang dibangun oleh perguruan tinggi di Indonesia, tidak ada satupun yang murni sebagai perpustakaan digital yang hanya mengembangkan, menyediakan dan mengorganisasi koleksi dan layanan secara digital, tetapi memadukannya dengan bentuk perpustakaan yang lama, yaitu perpustakaan tradisional, dimana kebanyakan koleksi perpustakaan  tersedia dalam bentuk tercetak. Beberapa jaringan perpustakaan digital yang pernah dan sedang dibangun di Indonesia adalah:

1. INDONESIA DIGITAL LIBRARY NETWORK (IDLN)
Sejarah
Jaringan perpustakaan digital pertama di Indonesia mulai beroperasi pada bulan Juni 2001.  Jaringan Perpustakaan Digital tersebut itu bernama IndonesiaDLN (Digital Library Network).  IndonesiaDLN diprakarsai oleh Knowledge Management Research Group (KMRG) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang merintis pembuatan jaringan perpustakaan digital (digital library network) antar lembaga pendidikan tinggi.  Jaringan pustaka digital bertujuan mempermudah kalangan akademik dan masyarakat umum untuk mengakses hasil penelitian, tugas akhir mahasiswa, tesis maupun disertasi. Dana awal pengembangan jaringan berasal dari Singapura sebanyak 60.000 dolar Kanada, dan dari Yayasan Litbang Telekomunikasi dan Teknologi Informasi (YLTI) sebanyak Rp 150 juta.

Pada awal berdirinya, lembaga yang bergabung dalam jaringan pustaka digital IndonesiaDLN antara lain Proyek Pengembangan Universitas Indonesia Timur, LIPI Jakarta, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Lembaga Penelitian ITB, Pasca Sarjana ITB, serta Computer Network Research Group (CNRG).

Ketua KMRG saat itu sekaligus sebagai penggagas IndonesiaDLN Ismail Fahmi menjelaskan bahwa ide dasar pengembangan pustaka digital bahwa hasil pemikiran dan penelitian harus bisa dipertukarkan (share) dan diakses secara cepat dan mudah. Copyright untuk tugas akhir maupun penelitian pada dasarnya termasuk public domain kecuali yang terikat pada perjanjian dengan industri atau dalam persiapan untuk mendapatkan hak paten. IndonesiaDLN bertujuan agar hasil-hasil penelitian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian bisa diakes dari manapun di seluruh penjuru dunia dapat diakses secara mudah dan murah dalam bentuk digital, tanpa memerlukan biaya transportasi maupun fotokopi yang biasanya harus dengan mengeluarkan biaya cukup tinggi.

Gagasan pembentukan jaringan perpustakaan nasional ini bermula dari peluncuran situs Ganesha Digital Library/GDL (perpustakaan digital milik ITB) Oktober 2000. Sekitar 20 institusi kemudian terlibat dalam proyek jaringan perpustakaan ini. Beberapa server individu juga ikut menyebarkan informasinya melalui GDL, seperti Onno W. Purbo, Budi Rahardjo, dan Ismail Fahmi.

Jaringan pustaka digital ini merupakan satu dari beberapa produk KMRG. Produk lainnya adalah Ganesha digital library, software untuk otomatisasi perpustakaan (GNU-Lib) serta software untuk katalog database perpustakaan (http://isisnetwork.lib.itb.ac.id).

Menurut Sekjen IndonesiaDLN,  Ismail Fahmi, jaringan perpustakaan digital ini berfungsi sebagai terminal dari berbagai server di Indonesia yang menyediakan informasi ilmu pengetahuan. Misi jaringan ini adalah mengelola ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa Indonesia, dalam satu jaringan yang terdistribusi dan terbuka.

Metadata
Dalam ilmu komputer, ada format standar yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu. Format yang umum digunakan, terutama dalam pertukaran data adalah XML (Website XML). XML atau eXtensible Markup Language merupakan format data yang sering digunakan dalam dunia world wide web. XML terdiri atas sekumpulan tag yang terdiri dari data. Satu set data dalam XML dimulai dengan tag pembuka dan diakhiri dengan tag penutup. Format XML diadopsi oleh standar metadata Dublin Core.

IDLN menggunakan metada Dublin Core , yaitu sebuah skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery.   Metadata Dublin Core terkenal dengan kesederhanaannya, sehingga dapat digunakan oleh orang awam (bukan hanya pustakawan).

Arsitektur Jaringan
Informasi mengenai ilmu pengetahuan – yang disebut metadata – dikirimkan ke satu server pusat IndonesiaDLN oleh mitra, dan server inilah yang berfungsi sebagai hub atau terminal yang menerima metadata dari server mitra perpustakaan digital.

IndonesiaDLN tidak akan memonopoli informasi yang dimilikinya, tetapi akan disebar dan direplikasi ke server mitra lainnya di IndonesiaDLN. Informasi seperti artikel ilmu pengetahuan yang disimpan dalam server mitra, secara otomatis akan disebarkan ke seluruh server mitra lainnya di IndonesiaDLN.

Dalam server mitra perpustakaan digital – baik di PC, perguruan tinggi, LSM, maupun warnet (warung internet -Red), seseorang dapat mencari dan menelusuri memori raksasa bangsa Indonesia. Ilmu pengetahuan dari berbagai sumber ini dapat disajikan dalam sebuah halaman web. IndonesiaDLN hanya akan memuat dan menyebarkan file yang berukuran kecil dan sedang. Sedangkan file yang berukuran besar – seperti multimedia – tidak akan disebar. IndonesiaDLN hanya akan mengarahkannya atau membawa seseorang ke file yang dituju. Jadi file yang berukuran besar tetap dikelola dan disimpan server sumber, bukan oleh terminal.

Hingga akhir tahun 2001, dua server utama sudah terpasang di ITB, yaitu GDL-Network Hub (http://gdlhub.indonesiaDLN.org) dan IndonesiaDLN Hub (http://hub.indonesiaDLN.org). Sedangkan mitra yang kini sudah bergabung antara lain Perpustakaan Pusat ITB, Program Pasta Sarjana ITB (Bandung), Universitas Muhammadiyah (Malang), Universitas Katolik Atmajaya (Jakarta), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Jakarta), Mesjid Salman ITB (Bandung), Magister Manajemen Agribisnis IPB (Bogor), dan Universitas Bina Nusantara (Jakarta). Dalam waktu dekat juga akan menyusul bergabung 13 perguruan tinggi IAIN di seluruh Indonesia.

Kontributor IndonesiaDLN adalah personal, warnet, dan institusi lainnya. Untuk bergabung ada dua syarat utama, yaitu memiliki potensi ilmu pengetahuan dan bersedia berbagi ilmu pengetahuan. Selanjutnya, mitra tersebut dapat mengembangkan sendiri piranti lunak perpustakaan digital, atau memanfaatkan yang telah ada seperti GDL .

Perkembangan yang cukup pesat dari Indonesia Digital Library Network ternyata secepat kematiannya.  Saat ini situs IDLN sudah tidak bisa diakses lagi. Tidak diketahui secara pasti penyebab dari matinya jaringan perpustakaan yang pada awal pendiriannya cukup berkembang secara pesat.

2. SPEKTRA VIRTUAL LIBRARY (SVL)
Sejarah
Spektra Virtual Library terbentuk dari jaringan kerjasama InCUVL yaitu Indonesia Christian University Virtual Library yang terbentuk pada tahun 1996.  SPEKTRA Virtual Library adalah jaringan perpustakaan pengguna software New SPEKTRA yang secara resmi berjejaring sejak tahun 1999.  Disebut ‘virtual’ karena SVL (Spektra Virtual Library) menggunakan internet baik sebagai jaringan kerjasama bagi para anggotanya dan juga karena menyediakan layanan perpustakaan secara virtual bagi pengguna dunia maya.
Tujuan dari lahirnya SPEKTRA Virtual Library adalah:

• Untuk membantu perpustakaan (institusi atau individu) untuk meningkatkan sistem manajemen perpustakaan untuk pendidikan masa depan di Indonesia.

• Untuk mendorong setiap lembaga (termasuk penggunaan pribadi) untuk berbagi informasi kepada orang lain dan menciptakan komunitas belajar di Indonesia. Informasi yang dapat dibagikan tidak metadata saja, tetapi juga format teks penuh. Semua orang dapat membaca jurnal, penelitian, kandungan lokal dari berbagai instansi bahkan dari daerah terpencil melalui internet.

SVL secara umum bertujuan untuk sharing informasi ilmu pengetahuan antara pengguna software New Spektra sehingga dapat dipergunakan oleh pengguna perpustakaan yang tergabung dalam jaringan maupun masyarakat umum sehingga dapat menciptakan masyarakat belajar (learning community) di Indonesia.
Perpustakaan yang tergabung dalam SVL adalah;
• Universitas Kristen Petra, Surabaya
• Perpustakaan Yayasan Kasih Keluarga Kristus, DKI Jakarta
• Perpustakaan Institut Teknologi Nasional, Bandung
• Perpustakaan Gereja Bethany Indonesia, Surabaya
• Perpustakaan Gereja Kristen Indonesia Emaus, Surabaya
• Perpustakaan Gereja Kristen Abdiel Gloria Surabaya
• Perpustakaan Pribadi Radius Prawiro, DKI Jakarta
• Perpustakaan STT Indonesia Timur, Makassar
• Perpustakaan Seminari Walter Post Theological, Jayapura, Papua
• Rantepao Theological Seminary University Library, Makassar
• Perpustakaan Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang
• Perpustakaan Universitas Kristen Indonesia, DKI Jakarta
• Perpustakaan Universitas Kristen Indinesia Paulus, Makassar
• Perpustakaan Universitas Kristen Indonesia Toraja, Makale
• Perpustakaan Universitas Kristen Krida Wacana, DKI Jakarta
• Perpustakaan Universitas Kristen Palangkaraya, Palangkaraya
• Perpustakaan Universitas Kristen Methodist Indonesia, Medan
• Perpustakaan Universitas Pelita Harapan, Tangerang
• Perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Central Java
• Perpustakaan Universitas Kristen Tomohon, Tomohon
• Jaffray Theological Philosophy Seminary Library, Makassar, South Celebes
• Cipta Wacana Christian University Library, Malang, East Java
• Theological Seminary of HKBP Library, Pematang Siantar, North Sumatera
• Maranatha Christian University, Bandung, West java
• Nusantara Bible Seminary, Malang, East Java
• P.T. Pelabuhan Indonesia III, Surabaya
• Bandung Theological Seminary, Bandung, East Java
• Sekolah Tinggi Teologia Jemaat Kristus Indonesia, Salatiga, Central Java
• Perpustakaan Yayasan Cita Hati, Surabaya, East Java
• Perpustakaan GKI Kepa Duri, Jakarta, DKI Jakarta
• Perpustakaan SMUK Petra 2, Surabaya, East Java
• Perpustakaan Wesley International School, Malang, East Java
• Perpustakaan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang
• Gereja Pantekosa Pusat Surabaya “Elim”, Surabaya, East Java
• Abdiel Theological Seminary, Ungaran, Central Java
• GKI “I.S. Kijne” Theological Seminary, Abepura, Papua
• GKE Theological Seminary, Banjarmasin, South Borneo
• GMIH Tobelo Theological Seminary, Tobelo
• ITKI (Faculty of Theology), Jakarta, DKI Jakarta
• Perpustakaan GKST Tentena Theological Seminary, Poso
• Perpustakaan GKI Pondok Indah, DKI Jakarta
• Perpustakaan GKI Samanhudi, DKI Jakarta
• Perpustakaan Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Jawa Timur, Surabaya
• Perpustakaan Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya

Metadata
SVL menggunakan metadata Dublin Core, sehingga memungkinkan untuk saling dipertukarkan dengan jaringan perpustakaan digital yang sama-sama menggunakan metadata Dublin core, termasuk dengan IDLN dan Garuda.

Sharing informasi yang dilakukan oleh SVL tidak hanya sekedar sharing metadatanya saja tetapi juga memungkinkan sharing file full text, sehingga untuk mengakses file full text, pengguna tidak perlu harus menghubungi pemilik data lokal.

Union Catalog dari jaringan kerjasama InCUVL dapat diakses melalui http://svl.petra.ac.id.  Meskipun masih tetap dapat digunakan, namun data tidak di update, karena saat ini Perpustakaan UK Petra sebagai penggagas jaringan Spektra Virtual Library tidak memiliki programmer tetap.

3. GARUDA (GARBA RUJUKAN DIGITAL INDONESIA)
Sejarah
Perpustakaan, dengan fungsinya sebagai penyedia informasi memiliki peranan yang besar dalam pendidikan. Setiap pengguna perpustakaan diberikan kemudahan dan kebebasan dalam mencari informasi yang dibutuhkannya. Pemakai dapat menemukan beragam informasi yang dapat dipergunakan untuk lebih mengembangkan dirinya. Peran tersebut membuat perpustakaan menjadi salah satu elemen yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

Perpustakaan digital merupakan salah satu bentuk perpustakaan dimana informasi disimpan dalam bentuk elektronik sehingga dapat dipertukarkan dengan mudah melalui jaringan komputer. Pengguna tidak harus datang ke perpustakaan secara fisik, melainkan dapat melakukan pencarian dari tempat yang memiliki akses ke komputer yang tersambung ke perpustakaan tersebut, baik lewat internet maupun intranet. Setelah itu mereka dapat mencari koleksi yang ada di perpustakaan tersebut sesuai dengan kebutuhan. Koleksi elektronik ini mudah dipertukarkan, sehingga terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sarana untuk pemerataan pendidikan yang berkualitas. Pertukaran data antar perpustakaan dapat menjadi salah satu cara untuk mempersempit jurang-jurang informasi antar daerah di Indonesia. Terbukanya akses informasi ke daerah, secara tidak langsung dapat meningkatkan wawasan masyarakat di daerah tersebut.

Berdasarkan Latar belakang yang disebutkan diatas, Garuda (Garba Rujukan Digital) dibuat dan dikembangkan sebagai portal yang mengintegrasikan data karya ilmiah dari perpustakaan-perpustakaan di Indonesia.  Portal Garuda secara resmi diluncurkan pada tanggal 15 Desember 2009 di Jakarta oleh Prof. Dr. Fasli Jalal (Dirjen Dikti Depdiknas).Garuda (Garba Rujukan Digital) adalah portal penemuan rujukan ilmiah Indonesia yang merupakan titik akses terhadap karya ilmiah yang dihasilkan oleh akademisi dan peneliti Indonesia.

Garuda yang mencakup antara lain e-journal domestik, tugas akhir mahasiswa (skripsi, tesis, dan disertasi), paten, prosiding, Standar Nasional Indonesia (SNI), Pidato pengukuhan guru besar para akademisi dan peneliti, dikembangkan oleh Direktorat P2M-Dikti Depdiknas bekerjsama dengan PDII-LIPI serta berbagai perguruan tinggi dalam hal penyediaan konten. Publik dan masyarakat umum yang melakukan penelusuran suatu karya ilmiah melalui Garuda dapat dengan segera mendapatkan informasi tentang keberadaan karya ilmiah yang dicari. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah hal yang mudah.

Konten lokal yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi/Lembaga, selama ini memang kurang di-expose sehingga memberikan kesan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di Indonesia ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini mengakibatkan masyarakat ilmiah kita kurang dikenal dan diakui, sehingga terasing baik secara nasional maupun internasional. Garuda bertujuan agar hasil karya para akademisi dan peneliti Indonesia dapat dikelola secara terintegrasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Metadata
Metadata yang digunakan dalam portal Garuda adalah metadata Dublin Core. Metadata Dublin Core adalah cara terstandarisasi (NISO Standard Z39.85-2001) untuk mendeskripsikan suatu informasi. Metadata Dublin Core dapat digunakan untuk mendefinisikan dokumen fisik maupun digital. Ada dua level metadata Dublin Core, yang pertama adalah simple dan kedua adalah qualified yang menambahkan encoding scheme, enumerasi nilai dan informasi lainnya

Arsitektur Jaringan
Menyeragamkan seluruh aplikasi dan platform perpustakaan di Indonesia bukanlah perkara yang mudah mengingat setiap perpustakaan sudah memiliki sistem perpustakaan digital tersendiri. Oleh sebab itu, yang dilakukan oleh tim Garuda adalah mengembangkan penelitian yang sudah dikerjakan sebelumnya khususnya terkait dengan masalah integrasi system perpustakaan digital dalam lingkungan yang bersifat heterogen.

Metode yang digunakan dalam pengembangan arsitektur aplikasi ini mengikuti model dengan menempatkan sebuah gateway sebagai perwakilan dari tiap protokol yang ada. Gateway ini bertugas untuk mengumpulkan data dari client-client di bawahnya dan menyediakan sebuah service agar pengguna yang ingin mencari data di protokol yang bersangkutan, hanya perlu memanggil service yang disediakan oleh gateway tersebut.

Garuda menggunakan dua buah gateway. Satu gateway sebagai penghubung kontributor yang menggunakan protokol OAI-PMH, dan satu gateway lagi digunakan bagi kontributor yang menggunakan CSV (Comma Separated Value). Format CSV digunakan oleh Garuda karena masih banyak perpustakaan dan sumber informasi di Indonesia yang belum mengimplementasikan protokol OAI-PMH, sehingga mereka lebih mudah jika menyediakan data dalam bentuk CSV. Setiap gateway akan menjadi pusat informasi untuk melakukan transformasi data yang diterima kedalam bentuk standar metadata yang digunakan oleh Garuda. Bentuk arsitektur yang digunakan terlihat pada gambar berikut

Gateway dirancang menggunakan bahasa pemrograman java dan dirancang secara modular sehingga memungkinan penambahan jenis protokol pertukaran data yang lain. Gateway yang digunakan dalam Garuda bertipe gateway pengumpul. Gateway jenis ini mengambil data secara berkala dari penyedia data dan menyimpannya sehingga untuk melakukan pencarian terhadap data, peminta data tidak langsung mencari ke penyedia data, tetapi melakukan pencarian ke tempat penyimpanan lokalnya.

Keseluruhan data yang dikumpulkan disatukan dan di index dalam sebuah retrieval system. Selanjutnya, dari retrieval system ini dibuatlah service yang menyediakan fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh web interface untuk menampilkan hasil pencarian.

Saat ini portal Garuda merupakan portal ilimiah pertama di Indonesia yang dapat diakses melalui http://e-journal.dikti.go.id dan http://jurnal.dikti.go.id. Garuda dapat menjadi portal ilmiah dan jaringan digital yang besar jika terus dikembangkan oleh pengelola dengan cara mencari mitra untuk bergabung sebagai kontributor.   Saat ini sekitar 50  perguruan tinggi dan pusat informasi yang bergabung dan menjadi kontributor tetap Garuda.

Hambatan Yang Dihadapi Dalam Pengembangan Jaringan Perpustakaan Digital Di Indonesia.
1. Banyak kendala yang ditemukan, terutama terkait dengan perbedaan standar yang digunakan dalam implementasi sistem perpustakaan, terutama dalam hal metadata dan protokol pertukaran data. Perpustakaan-perpustakaan yang berbeda dalam metadata dan juga protokol komunikasi akan sulit untuk saling bertukar data.

2. Kendala lainnya adalah beragamnya spesifikasi komputer dan bandwidth jaringan yang dipakai dalam proses komunikasi tersebut. Keberagaman spesifikasi dan bandwidth jaringan tersebut dapat menyebabkan terjadinya bottleneck dalam proses komunikasi apabila kita salah dalam memilih perpustakaan digital yang akan diajak berkomunikasi.

3. Perbedaan persepsi dan pendapat terkait hak cipta.  Sebagaimana kita ketahui bahwa masalah hak cipta yang terbagi dua: hak cipta pada dokumen yang didigitalkan dan hak cipta pada dokumen di communication network. Di dalam hukum Indonesia, hak cipta masalah transfer dokumen lewat jaringan komputer belum didefinisikan dengan jelas. Sehingga hal ini menimbulkan persepsi dan interpretasi yang berbeda-beda pada pengelola perpustakaan yang dapat menimbulkan masalah ketika mereka berjejaring dalam sebuah jaringan perpustakaan digital.

4. Masalah penarikan biaya. Perbedaan kebijakan pada perpustakaan terkait penarikan biaya dari akses koleksi digital menjadi masalah tersendiri yang harus dapat dipecahkan. Penelitian di bidang ini banyak mengarah ke pembuatan sistem deteksi pengaksesan dokumen atau pun upaya mewujudkan electronic money (Purtini, n.d.).

5. Kendala yang bersifat non-teknis terutama terkait dengan ego dan kebebasan yang diinginkan oleh setiap pengelola perpustakaan. Memaksakan setiap perpustakaan untuk menggunakan platform dan standar yang sama bukanlah hal yang bijaksana dan sulit dilakukan karena mengharuskan mereka melakukan investasi ulang terhadap aplikasi yang mereka miliki termasuk proses migrasi data.

6. Kurangnya SDM bidang IT yang mau bekerja di Perpustakaan, menyebabkan perpustakaan kekurangan programmer yang bisa menangani maintenance data dan sharing data secara digital.

7. Ketergantungan jaringan perpustakaan digital pada bantuan dana dari pihak luar sehingga ketika bantuan dana sudah tidak ada maka jejaring tidak dapat berjalan.  Sebenarnya masalah dana bisa diatasi jika SDM perpustakaan dapat menangkap peluang bisnis yang bisa timbul dari jaringan perpustakaan digital, misalnya dengan memberi ruang bagi iklan produk terkait sehingga dapat menjadi sumber dana bagi jaringan perpustakaan digital.

8. Beragamnya kondisi perpustakaan yang ikut berjejaring dalam jaringan perpustakaan digital menyebabkan  ketidak-seimbangan dalam pembagian beban kerja, sehingga beban kerja biasanya banyak ditanggung oleh perpustakaan penggagas jaringan sehingga ketika terjadi  sesuatu pada pada perpustakaan penggagas, misalnya tidak memiliki programmer, maka jaringan tidak berjalan atau mandeg.

9. Jaringan perpustakaan digital yang ada di Indonesia biasanya masih bersifat parsial, dan terjadi pada berbagai jenis perpustakaan maupun lembaga informasi yang bukan sejenis dari sisi pengguna maupun bidang ilmu yang dilayani, akibatnya terjadi kesenjangan dan perbedaan kebutuhan  informasi yang sangat tajam.
WACANA PENGEMBANGAN JARINGAN PERPUSTAKAAN DIGITAL DI INDONESIA
Bentuk Jaringan
Sebagai pustakawan, penulis mengusulkan bentuk jaringan perpustakaan digital yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah masing-masing jaringan kerjasama yang telah terbentuk selama ini membuat jaringan perpustakaan sehingga memungkinkan terbentuknya jaringan perpustakaan digital yang memiliki pengguna dan kebutuhan informasi yang relatif sama. Contoh:

• Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia dapat mengupload data koleksinya melalui portal Garuda sehingga Garuda dapat menjadi portal ilmiah perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki kekayaan konten dan dapat diakses oleh masyarakat internasional. Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia yang memiliki kepengurusan di masing-masing propinsi dapat  memotivasi para anggotanya untuk men-share-kan koleksinya melalui portal Garuda, misalnya melalui pelatihan tentang cara bergabung dengan Garuda, cara meng-upload koleksi ke Garuda dan lain-lain.

• Perpustakaan khusus yang telah membentuk jaringan bidang-bidang keilmuan dapat membentuk jaringan perpustakaan khusus, dimana koleksinya dapat berupa hasil-hasil penelitian dan dokumentasi bidang-bidang ilmu yang menjadi kajian.

• Badan Perpustakaan yang ada di tiap-tiap propinsi dapat menghimpun perpustakaan umum di tiap-tiap kota untuk membentuk dalam sebuah jaringan digital.  Data-data yang bersifat local content dapat menjadi sumber informasi yang besar untuk di dokumentasikan dan digitalkan sehingga memiliki keunikan dan memiliki nilai ter sendiri.   Koleksi local content tersebut misalnya budaya lokal daerah yang dapat dicapture dalam bentuk multimedia maupun media visual (foto), dan juga tulisan. Jaringan yang terbentuk di masing-masing propinsi ini dapat disatukan oleh Perpustakaan Nasional RI dalam sebuah jaringan yang lebih besar lagi yang memiliki cakupan nasional (Perpustakaan Digital Nasional), dan dapat menjadi National Repository  bagi bangsa Indonesia.

Metadata
Untuk membentuk jaringan perpustakaan digital seperti yang disebutkan diatas, tentu saja dibutuhkan kesamaan metadata yang digunakan pada masing-masing perpustakaan yang berjejaring dalam sebuah jaringan perpustakaan digital, sehingga data yang ditransfer dari database di server-server lokal dapat dibaca oleh database pada server pusat.  Tentu saja hal ini tidak mudah, dibutuhkan kerelaan dari masing-masing perpustakaan yang akan berjejaring.

Sumber Dana
Jaringan Perpustakaan Digital yang telah terbentuk dapat mencari sumber dana dengan cara:
• Menyediakan ruang iklan bagi produk komersial sehingga dapat menghasilkan dana bagi keperluan pengembangan jaringan.
• Menyediakan layanan download maupun penelusuran informasi sehingga dapat menadi sumber dana bagi masing-masing perpustakaan yang berjejaring.
• Menyediakan dana konsorsium yang ditarik dari anggota perpustakaan yang berjejaring dalam jaringan perpustakaan digital.
• Mencari sumber dana lain yang berasal dari dana hibah maupun grant dari Yayasan-Yayasan di luar negeri.

Hardware dan Software
Aplikasi perangkat lunak yang mendasari sebuah perpustakaan digital dapat dibeli dari sebuah vendor, dibuat sendiri  maupun dengan mengunakan software open source yang telah banyak tersedia di internet baik produk dalam maupun luar negeri.   Perpustakaan yang berjejaring dalam sebuah jaringan perpustakaan digital sebaiknya menggunakan software yang sama, tetapi jika tidak, jaringan tetap dapat terbentuk asalkan menggunakan metadata yang sama.

Sumber Informasi/Koleksi
Sumber informasi/resources yang dapat ditampilkan dalam jaringan perpustakaan digital adalah:
• Koleksi local content dari masing-masing institusi yang berjejaring, misalnya jika jaringan terbentuk dari perpustakaan perguruan tinggi adalah hasil-hasil penelitian dosen maupun mahasiswa yang tidak terbatas dalam format dokumen saja, tetapi bisa berupa format-format yang lain misalnya format gambar, audio visual, dll.
• Koleksi hasil-hasil pertemuan ilmiah yang diselenggarakan institusi yang berjejaring dalam perpustakaan digital.
• Koleksi local content daerah yang dihasilkan oleh masyarakat lokal.  Koleksi jenis ini seharusnya dapat dihimpun oleh perpustakaan umum di wilayah kota maupun propinsi yang berinisiatif untuk mendokumentasikan karya-karya jenis ini tanpa menunggu ada pihak lain yang mendokumentasikan. Misalnya dengan mendokumentasikan tradisi upacara adat, pernikahan adat, dll.
• Koleksi arsip-arsip lokal maupun nasional baik berupa dokumen teks, gambar, suara maupun artefak yang di capture dalam bentuk foto.
• Koleksi hasil-hasil penelitian pada perpustakaan khusus dan lembaga-lembaga riset nasional.

Maintenance
Pemeliharaan perpustakaan digital melibatkan peralatan dan koleksi. Upgrade dan modifikasi hardware maupun software perlu dilakukan secara hati-hati dan terencana. Perkembangan hardware maupun software yang relatif cepat mengharuskan jaringan perpustakaan digital yang telah terbentuk untuk teliti dan cermat dalam menentukan pilihan hardware maupun software yang akan digunakan, sehingga memudahkan proses maintenance.
Proses dan mekanisme back up koleksi perlu dipikirkan oleh perpustakaan yang melakukan jejaring secara digital.  Perlu adanya manajemen koleksi yang jelas, akan proses maintenance koleksi dapat berjalan dengan kontinyu, konsisten dan efektif.

Layanan
Jaringan perpustakan digital dapat menyediakan layanan bagi pengguna, misalnya dengan menyediakan:
• Layanan download koleksi digital, yang dapat difasilitasi oleh pengelola, dan jika ada permintaan dapat dilempar ke perpustakaan yang dituju, atau bisa juga disediakan oleh masing-masing perpustakaan berjejaring.  Jaringan perpustakaan dapat menyediakan layanan ini melalui fasilitas e-commerce maupun melalui fasilitas formulir online atau email.
• Layanan penelusuran informasi, baik dari koleksi digital maupun koleksi tercetak yang dimiliki oleh jaringan.

KESIMPULAN
Untuk membangun jaringan perpustakaan digital di Indonesia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.  Ada banyak kendala non teknis maupun teknis, seperti perbedaan pendapat dan  kondisi diantara perpustakaan tetapi juga kendala-kendala teknis lainnya seperti perbedaan metadata, kurangnya dukungan teknis dari programmer, infrastruktur yang kurang memadai dan lainnya.   Dibutuhkan kerja keras, semangat saling berbagi dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa agar jaringan perpustakaan digital di Indonesia dapat berlangsung langgeng sehingga benar-benar bisa menjadi sumber informasi bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Aji, R.F. (2010, June 19).  Pengembangan garuda (garba rujukan digital) sebagai sumber rujukan karya ilmiah di Indonesia. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2010 (SNATI 2010) Yogyakarta.

Aji, R.F. (n.d.). Arsitektur Garuda (garba rujukan digital). Retrieved December 29, fromhttp://www.lib.ui.ac.id/downloads.php?cat_id=1&download_id=4

Fahmi, I. (n.d.). Pendayagunaan digital library network untuk mendukung riset nasional. Retrieved December 29, 2010, from http:/http://www.batan.go.id/ppin/lokakarya/LKSTN_12/Ismail.pdf

IndonesiaDLN, Jaringan Perpustakaan Digital Pertama di Indonesia. (June 5, 2001).  Harian Ekonomi Neraca. Retrieved December 29, 2010, fromhttp://www.infoperpus.8m.com/news/2001/05062001_1.htm

KMRG ITB buat jaringan perpustakaan digital. (2000, July 20). Bisnis Indonesia. Retrieved December 27, 2010, from http://www.asmakmalaikat.com/go/buku/20072000_1.htm

Lancaster, F.W. (1985, September). The paperless society revisited. American Libraries, 553-555.

Purtini, W. (n.d.). Digital library. Retrieved March 8, 2012, from www.lib.itb.ac.id

Schwartz, C. (2000). Digital libraries: An overview. The Journal of Academic Librarianship 26(6), 385-393.

Universitas Kristen Petra, Perpustakaan. (n.d). Spektra Virtual Library. Retrieved January 3, 2011, from http://svl.petra.ac.id

Waters, D. (July/August 1998). What are digital libraries?. Council on Library and Information Services, 4. Retrieved January 10, 2010, fromhttp://www.clir.org/pubs/issues/issues04.html

Yamazaki, H. (2006, August 20-24). Changing society, role of information professionals and strategy for libraries.  World Library and Information Congres: 72nd IFLA General Conference and Council, Seoul Korea.

You are not authorized to see this part
Please, insert a valid App IDotherwise your plugin won't work.

Leave a Reply